MAKALAH KIMIA ORGANIK
“MORFIN”
Nama : Ni’matus Sholihah
NIM : 201310220311074
Kelas : ITP B
JURUSAN
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS
PERTANIAN – PETERNAKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Narkotika adalah zat atau obat
yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi
sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun
1997). Yang termasuk jenis narkotika adalah tanaman papaver, opium mentah,
opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina,
tanaman ganja, dan damar ganja. Disamping itu, Garam-garam dan turunan-turunan
dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang
mengandung bahan tersebut di atas juga termasuk narkotika.
Rangsang yang menimbulkan rasa
nyeri ialah kerusakan pada jaringan, atau gangguan metabolism jaringan. Hal ini
mengakibatkan perubahan pada konsentrasi local ion (penurunan pH harga
jaringan, peningkatan konsentrasi ion kalium ekstrasel) maupun pembebasan
senyawa mediator. Sebagai akibatnya, reseptor nyeri (nosiseptor) yang terdapat
dikulit, di dalam jaringan yang lebih dalam letaknya (otot kerangka, jaringan
ikat, selaput tulang) dan di organ viseral jeraon, terangsang. Tergantung pada
letaknya, dibedakan antara nyeri, permukaan, nyeri yang dalam dan nyeri viseral, yang secara kualitatif dialami
dengan cara yang berbeda. Dari reseptor, nyeri dikondusikan sebagai impuls
listrik yang bersusulan (potensial aksi) melalui urat saraf sensorik (urat
saraf nyeri) ke sumsum tulang belakang dan akhirnya melalui otak tengah
(telamus) ke sinusoid pusat posterior dari otak besar, di mana terjadi
kesadaran akan nyeri.
Seperti yang ditulis di atas,
narkotika jenis opium merupakan salah satu obat yang dapat menghilangkan rasa
nyeri. Kesadaran akan nyeri mungkin tetap ada atau berkurang, tetapi kemampuan
untuk menafsirkan, menggabungkan, dan beraksi terhadap nyeri menurun karena
adanya sedasi, eufori, dan penurunan keresahan dan penderitaan. Efek lain
satu-satunya yang berguna terhadap SSP adalah penekanan batuk. Secara perifer,
pengurangan gerak-dorong usus berguna untuk mengendalikan diare, jika tidak,
terjadi sembelit sebagai efek samping umum. Diantara kumpulan reaksi yang
merugikan, yang paling penting dalam membatasi kegunaannya adalah toleransi
melalui sentral, ketergantungan, dan depresi pernapasan, yang menjadi penyebab
kematian pada pemberian yang lewat-dosis. Oleh karena itu, melalui makalah ini
akan dijelaskan ruang lingkup salah satu jenis narkotika yaitu opium, terutama
morfin sebagai agen aktif utama dalam opium.
1.2.Rumusan
Masalah
Adapun masalah yang dibahas pada makalah ini yaitu
sebagai berikut sebagai berikut:
1.
Zat aktif apakah yang terkandung dalam opium?
2.
Bagaimana struktur dan sifat dari zat aktif
tersebut?
3.
Bagaimana aturan penggunaannya ?
4.
Apa efek dan gejala dari pemakaian obat tersebut?
5.
Bagaimana pencegahan dan pengobatan dari penggunaan
obat tersebut?
1.3.Tujuan Penulisan
1.
Dengan mengidentifikasi sifat dan rumus bangun kita
dapat mengetahui, sifat-sifat dari Morfin.
2.
Dengan mengidentifikasi efek dari Morfin kita dapat
megetahui, seperti apa efek yang ditimbulkan oleh Morfin setelah penggunaan.
3.
Dengan mengidentifikasi cara pengobatan dan
Pencegahan Morfin, kita dapat mengetahui obat apa yang digunakan untuk
mengurangi kecanduan Morfin.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1.Zat
Aktif Obat
Opium atau opium berasal dari
kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira
20 alkaloid opium, termasuk morfin. Nama Opium juga digunakan untuk opium,
yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang
kerjanya menyerupai opium tetapi tidak didapatkan dari opium. opium alami lain
atau opium yang disintesis dari opium alami adalah heroin (diacethylmorphine),
kodein (3-methoxymorphine), dan hydromorphone (Dilaudid).
Morfin adalah alkaloid analgesik
yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium.Umumnya opium mengandung 10% morfin. Kata
"morfin" berasal dari Morpheus, dewa mimpi dalam mitologi Yunani.
Morfin adalah hasil olahan dari
opium/candu mentah. Morfin merupakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3
) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam
bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.
2.2.Struktur
dan Sifat Obat
Struktur yang tepat untuk
alkaloid ini dikemukakan oleh Gulland dan Robinson pada tahun 1925. Morfin
mempunyai lima pusat asimetrik (karbon 5,6,9,13, dan 14), tetapi hanya 16 (8
pasangan rasemik diastereoisomer) dan bukan 32 (25) isomer yang mungkin, karena
atom 10 dan 12 harus cis, jadi
1,3-diaksial, dibandingkan terhadap cincin piperidin (D). Stereokimia relatif
pada kelima pusat itu direduksi secara tepat oleh Stork pada tahun 1952.
Peristilahan klasik (misalnya morfin, kodein) digantikan oleh tatanama sistemik
yang didasrkan pada inti morfinan dengan mempertahankan sistem penomoran
fenantren. Jadi morfin sekarang disebut (Cemical
Abstract) 17-metil-7,8-didehidro-4,5α-epoksimorfinan-3,6α-diol ; dimana α
menunjukan orientasi trans terhadap
jembatan 15, 16, 17 yang berhubungan dengan sistem cincin ABC.
Sifat morfin yaitu khasiat analgesik morfin lebih efektif pada rasa nyeri yang
terputus-putus (interminten) dan yang batasnya tidak tegas. Dalam dosis cukup
tinggi, dapat menghilangkan kolik empedu dan uretur. Morfin menekan pusat
pernafasan yang terletak pada batang otak sehingga menyebabkan pernafasan
terhambat. Kematian pada kelebihan dosis morfin umumnya disebabkan oleh sifat
menghambat pernafasan ini. Efek menekan pernafasan ini diperkuat oleh
fenotiazin, MAO-I dan imipramin. Sifat morfin lainnya ialah dapat menimbulkan kejang
abdominal, muka memerah, dan gatal terutama di sekitar hidung yang disebabkan
terlepasnya histamin dalam sirkulasi darah, dan konstipasi, karena morfin dapat
menghambat gerakan peristaltik. Melalui pengaruhnya pada hipotalamus, morfin
meningkatkan produksi antidiuretik hormon (ADH) sehingga volume air seni
berkurang. Morfin juga menghambat produksi ACTH dan hormon gonadotropin
sehingga kadar 17 ketosteroid dan kadar 17-hidroksi kortikosteroid dalam urine
dan plasma berkurang. Gangguan hormonal ini menyebabkan terganggunya siklus
menstruasi dan impotensi.
Sintesis total morfin pertama
kali dipaparkan oleh Gates dan Tsehudi (1952-1956) dan oleh Elad dan Ginsburg
(1954). Hal ini menegaskan hipotesis Robinson-Stork. Beberapa sintesi lain yang
baik menyusul tetapi tak satu pun sintesis total dapat bersaing secara dagang
dengan hasil sumber alami. Pembuktian langsung tentang stereokimia relatif pada karbon 5,6,9 dan 13 diberikan oleh
Rapoport (1950-1953) perincian terakhir, C (14), diberikan pada tahun 1955 melalui
telaah difraksi sinar-X Kristal tunggal tentang garam morfin yang dilaporkan
oleh MacKay dan Hodgkin. Telaah ini memberika juga gambar konformasilengkap
pertama untuk molekul morfin. Konfigurasi absolut ditetapkan pada tahun yang
sama oleh Kalvoda dan rekan-rekannya melalui penguraiantebain secara kimia
menjadi senyawa menjadi senyawa yang lebih sederhana yang konfigurasi
absolutnya diketahui. Konfigurasi absolut untuk (-)-morfin yang terdapat di
alam adalah seperti yang diperlihatkan. Citra cerminnya, (+)-morfin, tidak
mempunyai aktivitas analgesic. Morfin dan semua senyawa sejenisnya yang aktif
adalah basa organik (amin) dengan pKa yang berkisar antara kira-kira 8,5 sampai
9,5. Jadi, padapH fisiologis (7,4) sekitar 97 sampai 99 % terprotonasi. Basa bebas
sangat sukar larut dalam air, tetapi pada umumnya, garamnya yang sangat baik
larut dalam air. Basa yang tak terion yang ada dalam keseimbangan dengan
membentuk (ion) yang terprotonasi dianggap sebagai jenis yang menembus hambatan
lipoid darah otak. Secara luas diterima bahwa opium berinteraksi dengan
reseptor dalam bentuk ion.
Sifat, reaksi morfin sebagai
alkaloid bersifat basa karena mengandung gugus amin tersier (pKa ≈ 8,1) dan
membentuk garam berbentuk Kristal dengan sederetan asam. Yang digunakan adalah
garam hidroksida yang mengandung tiga molekul air Kristal ( morfin hidroksida
pH, Eur). Berdasarkan gugus hidroksil fenolnya morfin juga bersifat asam ( pKa
= 9,9) dan bereaksi dengan alkalihidroksida membentuk fenolat, tetapi tidak
bereaksi dengan larutan ammonia. Titik isolistrik terletak pada pH 9. Morfin
yang terdapat dalam alam memutar bidang polarisasi ke kiri.
Efek morfin terjadi pada susunan
syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system
syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan
depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar.
Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis,miosis, mual muntah, hiperaktif
reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH).
.(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995; Wibowo S dan Gopur A., 1995;
Omorgui, 1997).
Morfin tidak dapat menembus kulit
utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus mukosa.
Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh
lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral
dengan dosis yangsama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin.
Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan
dalam tinja dan keringat.Turunan
OPIOID (OPIAD) yang sering disalahgunakan adalah :
- Candu
Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan
menyadap (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar berwarna putih
dan dinamai "Lates". Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan
buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu
adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah atau
candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam zat-zat aktif yang sering
disalahgunakan. Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman.
Diperjual belikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap, antara
lain ular, tengkorak,burung elang, bola dunia, cap 999, cap anjing, dsb.
Pemakaiannya dengan cara dihisap.
- Morfin
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah.
Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya
pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna.
Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.
- Heroin ( putau )
Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat
dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang
di Indonesia pada akhir - akhir ini . Heroin, yang secara farmakologis mirip
dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak
menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal,
tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker
terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.
- Codein
Codein termasuk garam / turunan dari opium / candu.
Efek codein lebih lemah daripada heroin, dan potensinya untuk menimbulkan
ketergantungaan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih.
Cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan.
- Demerol
Nama lain dari Demerol adalah pethidina.
Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk
pil dan cairan tidak berwarna.
- Methadon
Saat ini Methadone banyak digunakanorang dalam
pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati
overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik
(opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine),
pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak
digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah
dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat
tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine,
levalorphane, dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran
agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine,
butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex).
7. Kokain
Kokain adalah zat yang adiktif yang sering
disalahgunakan dan merupakan zat yang sangat berbahaya. Kokain merupakan
alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal
dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya
dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan. Saat
ini Kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan
mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksifnya juga membantu.
Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan
heroin karena efek adiktif dan efek merugikannya telah dikenali.Nama lain untuk
Kokain : Snow, coke, girl, lady dan crack ( kokain dalam bentuk yang paling
murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat ).
2.3.Aturan
Penggunaan dan Efek Obat
Morfin digunakan untuk menghambat
nyeri yang paling kuat. Dosis analgetik pada penggunan yang diutamakan, yaitu
subkutan, adalah 10 mg. pada dosis kecil sudah terjadi peredaan rangsang batuk
melalui peredaman pusat batuk (kerja antitusif). Pusat respirasi juga dihambat
(kerjadepresi pada respirasi). Hal ini terlihat dalam rentang dosis terapi dan
pada dosis yang lebih tinggi, akhirnya menyebabkan kelumpuhan pernapasan. Efek
selanjutnya, yang menyangkut SSP yaitu sedasi dan pada sebagian pasien
euphoria. Bertalian erat dengan ini, ada kemungkinan untuk mengembangkan
keterangan pada morfin (ketergantungan psikis dan fisik yang kuat, pengembangan
toleransi dan dorongan untuk menaikkan dosis). Selain itu, morfin juga
mempunyai sifat merangsang secra sentral. Hal ini merupakan hasil dari sergapan
pada bagian sentral parasimpatikus dan antara lain diwujudkan sebagai miosis.
Kerja stimulasi kerja dari analgetika jenis morfin, dapat diamati secara khas
pada menchit, melalui penegakan ekor dalam bentuk S yang khas gejalan ekor dari
straub. Termasuk sebagai kerja parifer morfin adalah peningkatan tonus otot
polos, yang mengakibatkan obstipasi spastik. Sebaliknya, opium yang dapat
digunakan untuk meredakan usus, menyebabkan obstipasi otonik karena mengandung
papaverin.
Morfin bekerja langsung pada
sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain
adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur.
Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi.
Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien
morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.
Dalam pengobatan klinis, morfin
dianggap sebagai standar emas, atau patokan, dari analgesik digunakan untuk meringankan
penderitaan berat atau sakit dan penderitaan . Seperti opium lain, misalnya
oksikodon (OxyContin, Percocet, Percodan), hidromorfon (Dilaudid, Palladone),
dan diacetylmorphine ( heroin ), morfin langsung mempengaruhi pada sistem saraf
pusat (SSP) untuk meringankan rasa sakit . Morfin memiliki potensi tinggi untuk
kecanduan , toleransi dan psikologis ketergantungan berkembang dengan cepat,
meskipun Fisiologis ketergantungan mungkin membutuhkan beberapa bulan untuk
berkembang.
Efek samping yang ditimbulkan ;
Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan
pada malam hari, mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan resiko
terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum
suntik dan penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan dalam identitas
seksual, kematian karena overdosis.
- Efek umum
- Penurunan kesadaran
- Euphoria (rasa gembira luar biasa) rasa inilah yang sering dicari oleh penyalahguna morfin
- Rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur.
- Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan menyebabkan konstipasi.
- Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi, insomnia dan mimpi buruk
- Rasa batinnya yang tertekan (depresi) hilang
- Daya konsentrasi pikiran terganggu menyebabkan sukar berpikir dan apatis
- Pupil mata menyempit ( pin point pupil ), tekanan darah turun, denyut nadi lambat, suhu badan sedikit menurun, dan otot-otot menjadi lemah.
- Pemakai morfin akan merasa mulutnya kering, seluruh badannya hangat, dan anggota badan terasa berat,
- Malas bergerak dan bicara cadel
- Pada orang yang belum pernah memakai morfin atau opioida pada umumnya serta sedang tidak menderita suatu rasa nyeri, dapat timbul reaksi yang berlawanan, yaitu timbulnya perasaan tidak enak (disforia) yaitu rasa cemas, ketakutan, mual, dan muntah. Kadang-kadang timbul reaksi idiosinkratik berupa insomnia, urtikaria, perdangan di sekitar tempat disuntik dan syok
Efek
kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak
begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi),
penglihatan dan pendengaran ; bahkan persepsi nyeri pun tidak selalu hilang
setelah pemberian morfin dosis terapi.
a.
Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3
mekanisme ;
(1)
morfin meninggikan ambang rangsang nyeri ;
(2)
morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin
dapat mengubah reaksi yang timbul
dikorteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari
thalamus ;
(3)
morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang
rangsang nyeri meningkat.
Gejala
Untuk gejala yang ditimbulkan
akibat pemakaian Morfin yang dihentikan (gejala putus obat) secara mendadak
pada pecandu yaitu akan mengalami Syndroma Abstinensia, yaitu gejala yang
timbul karena pemakaian obat yang dihentikan secara mendadak.
Syndroma Abstinensia akan muncul
setelah 8-13 jam ketika masa kerja obat habis. Badan akan mengigil, dari hidung
akan keluar cairan seperti waktu terkena flu, pupil mata akan melebar, bulu
roma akan berdiri ,sementara rasa dingin bertambah kuat. Inilah yang disebut
cold turkey. Setelah 48 jam bakal terjadi kejang perut yang disertai rasa sakit
yang lumayan hebatnya dan diare berat (buang air besar 60 kali sehari).
Keringat akan keluar bercucuran membasahi tempat tidur. Berat tubuh akan turun
drastis. Jika mereka dibiarkan selama 7-10 hari , kemungkinannya ada dua.
Sembuh total dengan disertai rasa kapok untuk memakainya lagi atau meninggal
dunia.
Selain gejala Syndroma
Abstinensia, ada gejala lain yang lebih umum ditunjukkan oleh pecandu yang
mengalami gejala putus obat/penghentian penggunaan Morfin secara mendadak yaitu
Keringat berlebih, kejang otot, menggigil, gelisah, menguap, tidur terganggu,
lekas marah, cemas, kelelahan, mual, anoreksia, muntah , kejang usus, diare,
bersin-bersin, rasa panas dan dingin, nyeri perut dan kram. Sering terjadi juga
peningkatan suhu tubuh, tekanan darah, laju pernapasan dan denyut jantung.
2.4.
Pencegahan & Pengobatan
Untuk menghindari putus obat
(sakau) parah, umumnya pengguna Morfin harus mengurangi penggunaan obat secara
bertahap di bawah pengawasan dokter. Selain itu, dapat pula untuk masuk ke
pusat detoksifikasi atau rehabilitasi. Untuk pasien dengan tingkat kecanduan
sedang sampai berat dengan penggunaan obat yang relatif lama, detoksifikasi
pasien sangat dianjurkan untuk dilakukan pendekatan secara multidisipliner.
Pengobatan pada akhirnya akan tergantung pada tingkat kecanduan.
1.
Dengan HIPNOTERAPI : Untuk pecandu narkoba yang masih
tergantung secara biologis terhadap zat adiktif tertentu, sebaiknya mengikuti
hipnoterapi dibawah pengawasan dokter. Meskipun dengan pemrograman pikiran bisa
membuat pecandu narkoba (Morfin dan sejenisx) menjadi sama sekali tidak ingin
dan tidak mau mengkonsumsi narkoba lagi dalam sekali terapi, namun menghentikan
konsumsi narkoba secara mendadak mungkin bisa menyebabkan kematian. Maka
mintalah pendapat dokter, apakah lebih baik hipnoterapi untuk membuat pecandu
sedikit demi sedikit meninggalkan narkoba, atau seketika berhenti.Sekali lagi,
apapun jenis kecanduan yang di alami, pecandu hanya bisa berubah total dengan
hipnoterapi apabila pecndu sendiri yang ingin berubah. Apabila keputusan untuk
menghilangkan kecanduan atau kebiasaan buruk berasal dari bujukan, paksaan,
atau tekanan orang lain, maka kemungkinan berhasil akan lebih kecil atau butuh
waktu lebih lama. Kalaupun sudah sembuh, kemungkinan kambuh lagi cukup besar.
2.
Dengan Therapy Rumatan Methadon : Metadon digunakan
dalam perawatan kecanduan morfin. Methadone adalah sarana pengalihan atau
subtitusi bagi para Pecandu napza yang
Ketergantungan Opiat atau Morfin. Methadone mempunyai efek toleransi
silang yang baik dengan golongan opioid lainnya seperti heroin atau morphine
dan oleh karenanya methadone cukup bermanfaat jika digunakan sebagai agen
rumatan ketergantungan opoid. Selain itu juga karena waktu paruh dan jangka
kerjanya yang lama, akan membuat stabilisasi pasien lebih baik sehingga proses
kecanduan terhadap opoid akan berkurang. Dengan demikian usaha-usaha pasien
untuk mengkonsumsi substansi heroin, morfin atau obat sejenisnya melalui
suntikan juga akan berkurang.
3.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas,
dapa ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
1.
Opium merupakan salah satu jenis narkotika alami yang terdapat dalam jus dari
bunga opium, Papaver somniverum. Morfin merupakan alkaloida utama dari opium (
C17H19NO3 ) . Nama kimia dari morfin yaitu
17-metil-7,8-didehidro-4,5α-epoksimorfinan-3,6α-diol ; dimana α menunjukan
orientasi trans terhadap jembatan 15,
16, 17 yang berhubungan dengan sistem cincin ABC.
2.
Morfin adalah hasil olahan dari opium atau candu mentah. Morfin mempunyai rasa
pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau cairan berwarna putih.
Morfin, terutama digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat yang tidak
dapat diobati dengan analgetik non narkotika. Apabila rasa nyeri makin hebat
maka dosis yang digunakan juga makin tinggi. Semua analgetik narkotika dapat
menimbulkan adiksi (ketagihan). Morfin juga digunakan untuk mengurangi rasa
tegang pada penderita yang akan dioperasi.Morfin digunakan untuk menghambat
nyeri yang paling kuat. Dosis analgetik pada penggunan yang diutamakan, yaitu
subkutan, adalah 10 mg.
3.
Sifat, reaksi morfin sebagai alkaloid bersifat basa karena mengandung gugus
amin tersier (pKa ≈ 8,1) dan membentuk garam berbentuk Kristal dengan sederetan
asam. Berdasarkan gugus hidroksil fenolnya morfin juga bersifat asam ( pKa =
9,9) dan bereaksi dengan alkalihidroksida membentuk fenolat, tetapi tidak
bereaksi dengan larutan ammonia. Titik isolistrik terletak pada pH 9. Morfin
yang terdapat dalam alam memutar bidang polarisasi ke kiri.
4.
Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek
samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk,
lesu, dan penglihatan kabur.
5.
Untuk menghindari putus obat (sakau) parah, umumnya pengguna Morfin harus
mengurangi penggunaan obat secara bertahap di bawah pengawasan dokter. Selain
itu, dapat pula untuk masuk ke pusat detoksifikasi atau rehabilitasi.
3.2.Saran
Melalui makalah ini, penulis
menyarankan kepada penulis sendiri dan kepada siapaun agar sosialisasi akan
bahaya narkoba khususnya narkotika terus dilakukan terutama kepada generasi
muda yang berpotensi menyalahgunakan obat jenis ini
DAFTAR PUSTAKA
penyakit.infogue.com/narkotika_jenis_gejala_putus_obat
Walter Schunack, Klaus Mayer, and Manfred Haake.1983.
ARZNEISTOFFE, Lehrbuch der
Pharmazeutischen(diterjemahkan tahun 1990). Yogyakarta : GADJAH MADA
UNIVERSITY PRESS
William O. Foye.1981. Principles Of Medicinal Chemistry (diterjemahkan oleh LEA &
FEBIGER tahun 1995). Yogyakarta : GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar