BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Senyawa benzena mempunyai rumus molekul C6H6, dan termasuk dalam golongan senyawa
hidrokarbon. Bila dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon lain yang mengandung
6 buah atom karbon, misalnya heksana (C6H14) dan sikloheksana (C6H12), maka
dapat diduga bahwa benzena mempunyai derajat ketidak jenuhan yang tinggi.
Dengan dasar dugaan tersebut maka dapat diperkirakan bahwa benzena
memiliki ciri-ciri khas seperti yang
dimiliki oleh alkena. Perkiraan tersebut ternyata jauh berbeda dengan
kenyataannya, karena benzene tidak dapat
bereaksi seperti alkena (adisi, oksidasi, dan reduksi). Lebih khusus lagi
benzene tidak dapat bereaksi dengan HBr, dan pereaksi-pereaksi lain yang
lazimnya dapat bereaksi dengan alkena. Sifat-sifat kimia yang diperlihatkan
oleh benzena memberi petunjuk bahwa senyawa tersebut memang tidak segolongan dengan alkena ataupun
sikloalkena.
Senyawa benzena dan sejumlah turunannya
digolongkan dalam senyawa aromatik,Penggolongan ini dahulu semata-mata dilandasi oleh aroma yang dimiliki sebagian
dari senyawa-senyawa tersebut. Perkembangan kimia pada tahap berikutnya
menyadarkan parakimiawan bahwa klasifikasi senyawa kimia haruslah berdasarkan
struktur dan kereaktifannya,dan bukan atas dasar sifat fisikanya. Saat ini
istilah aromatik masih dipertahankan, tetapi mengacu pada fakta bahwa semua
senyawa aromatik derajat ketidak jenuhannya tinggi dan stabil bila berhadapan
dengan pereaksi yang menyerang ikatan phi.
1.2 Tujuan
1.
Mengetahui
asal mula benzene
2.
Mengetahui
struktur benzene
3.
Mengetahui
senyawa turunan dari benzene
4.
Mengetahui
cara penamaan benzene
5.
Mengetahui
reaksi pada benzene
6.
Mengetahui
sifat, kegunaan dan dampak dari benzene dan turunannya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Senyawa aromatik merupakan senyawa siklik
yang mengandung ikatan konjugasi, yaitu ikatan yang berselang seling antara
ikatan rangkap dan ikatan tunggal. Senyawa aromatic pada umumya berasal dari
tanaman yang berbau harum.(Atik,2011)
Benzene adalah seluruh atom C dan H pada
molekul benzene memiliki kedudukan yang sama atau ekivalen, sehingga ikatan
rangkapnya bisa berubah. Peristiwa tersebut dinamakan resonansi. Benzene
berasal dari penyulingan minyak bumi atau batu bara. (Atik,2011)
Pembuatan benzene menurut Atik (2011)
1.
Secara teknik : dibuat dari penyulinagan
bertingkat ter batu bara
2.
Secara
sintetis : polimerisasi etuna, hidrolisis asam benzene sulfonat (SO2OH),
sulingan kering kalsium benzoat dengan Ca(OH)2
Menurut Kekule (1873), struktur benzena dituliskan
sebagai cincin beranggota enam(heksagon) yang mengandung ikatan tunggal dan
rangkap berselang-seling.

Menurut Kekule penggantian brom pada sembarang atom
hidrogen akanmenghasilkan senyawa yang sama, karena keenam atom karbon dan
hydrogen ekivalen. Kekule ini dapat menjelaskan fakta bahwa jika benzena
bereaksi dengan brom menggunakan katalis FeCl3 hanya menghasilkan satu senyawa
yang memiliki rumus molekul C6H5Br.
Menurut model ikatan valensi, benzena
dinyatakan sebagai hibrida resonansi dari duastruktur penyumbang yang ekivalen,
yang dikenal dengan struktur Kekule.Masing-masing struktur Kekule memberikan
sumbangan yang sama terhadap hibrida resonansi, yang berartibahwa ikatan-ikatan
CC bukan
ikatan tunggal dan juga bukan ikatan rangkap, melainkan diantara keduanya.

Menurut Erich Huckel, suatu senyawa yang mengandung
cincin beranggota lima atau
enam
bersifat aromatik jika:
·
semua atom penyusunnya terletak
dalam bidang datar (planar)
·
setiap atom yang membentuk cincin
memiliki satu orbital 2p
·
memiliki elektron pi dalam susunan
siklik dari orbital-orbital 2p sebanyak 4n+2(n= 0, 1, 2, 3, …)
Di samping benzena dan turunannya, ada beberapa jenis senyawa lain
yangmenunjukkan sifat aromatik, yaitu mempunyai ketidakjenuhan tinggi dan tidak
menunjukkan reaksi-reaksi seperti alkena. Senyawa benzena termasuk dalam golongan senyawa homosiklik, yaitu senyawa yang memiliki hanya
satu jenis atom dalam sistem cincinnya. Terdapat senyawa heterosiklik, yaitu
senyawa yang memiliki lebih dari satu jenis atom dalam sistem cincinnya, yaitu cincin yang tersusun dari satu
atau lebih atom yang bukan atom karbon. Sebagai contoh,piridina dan pirimidina
adalah senyawa aromatik seperti benzena. Dalam piridina satu unit CH dari benzena digantikan oleh atom
nitrogen yang terhibridisasi sp2, dan dalam pirimidina dua unit CH digantikan oleh atom-atom
nitrogen yang terhibridisasi sp2.

Senyawa-senyawa
heterosiklik beranggota lima seperti furan, tiofena, pirodan imidazol juga termasuk senyawa
aromatik.

BAB III
PEMBAHASAN
- Asal Usul Senyawa Benzena
Senyawa
benzena untuk pertama kalinya berhasil diisolasi dari residu berminyak yang
diperoleh dari saluran gas lampu (untuk penerangan) oleh Michael Faraday pada
tahun 1825. Setelah diketahui bahwa benzena mempunyai rumus molekul C6H6
maka dapat disimpulkan bahwabenzena termasuk golongan hidrokarbon.Bila
dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon lain yang mengandung 6 buah atom
karbon, misalnya heksana (C6H14) dapat diduga bahwa
benzena mempunyai derajat ketidakjenuhan yang tinggi. Dengan dasar dugaan
tersebut maka dapat diperkirakan bahwa benzena memiliki ciri-ciri khas seperti
yang dimiliki oleh alkena.Perkiraan tersebut ternyata jauh berbeda dengan
kenyataannya, karena benzena tidak dapat bereaksi seperti alkena (adisi,
oksidasi, dan reduksi).Lebih khusus lagi benzena tidak dapat bereaksi degan
HBr, dan pereaksi-pereaksi lain yang lazimnya dapat bereaksi dengan alkena.Sifat-sifat
kimia yang diperlihatkan oleh benzena memberi petunjuk bahwa senyawa tersebut
memang tidak segolongan dengan alkena atau pun sikloalkena.Digolongkannya
benzena dan sejumlah turunannya dalam senyawa aromatik semata-mata karena
dilandasi atas aroma yang dimiliki sebagian dari senyawa-senyawa tersebut.Perkembangan
kimia pada tahap berikutnya menyadarkan para kimiawan bahwa klasifikasi senyawa
kimia haruslah berdsarkan strukutr dan kereaktifannya, dan bukan atas dasar
sifat fisiknya.
Gugus Aril
Dewasa ini
aromatik masih dipertahankan tetapi mengacu pada fakta bahwa semua senyawa
aromatik derajat ketidakjenuhannya tinggi dan stabil bila berhadapan dengan
pereaksi-pereaksi yang menyerang ikatan pi.Di samping itu dikenal pula istilah
arena yang khusus digunakan untuk turunan benzena yang substituennya berupa
gugus alkil. Analog dengan nama gugus alkil, yang diturunkan dari nama alkana
yang melepaskan satu atom H, maka dikenal gugus aril, yang diturunkan dari nama
arena yang melepaskan satu atom H. Bila gugus alkil dinyatakan dengan lambang
R, maka gugus aril menggunakan lambang Ar.
- PENGERTIAN BENZENA
Benzena
adalah senyawa organik siklik (berbentuk cincin) dengan enam atom karbon yang
bergabung membentuk cincin segi enam. Nama IUPAC Benzena
(atau 1,3,5-sikloheksatriena). Dan nama lainnya Benzol. Rumus molekul benzena memperlihatkan sifat ketakjenuhan
dengan adanya ikatan rangkap.Tetapi ketika dilakukan uji bromin benzena tidak
memperlihatkan sifat ketakjenuhan karena benzena tidak melunturkan warna
dari air bromin.Rumus molekulnya adalah C6H6.
Benzena
adalah contoh senyawa aromatic yang memiliki rantai tertutup membentuk cincin
benzena dengan rumus struktur C6H6. Kata aromatik semula digunakan untuk
menggambarkan zat-zat berbau harum dari buah-buahan, pepohonan dan hasil alam
lainnya. Sekarang istilah aromatik ditujukan kepada senyawa yang berbentuk segi
enam dengan tiga ikatan rangkap beselang-seling
- SENYAWA-SENYAWA TURUNAN BENZENA
Banyak senyawa kimia penting yang berasal dari
benzena. Senyawa-senyawa ini dibuat dengan cara menggantikan satu atau lebih
atom hidrogen pada benzena dengan gugus
fungsional lainnya. Contoh dari senyawa
turunan benzena sederhana adalah fenol, toluena, anilina, biasanya disingkat dengan PhOH, PhMe, dan PhNH2.
2 cincin benzena yang berikatan akan membentuk bifenil, C6H5–C6H5.
Pada kimia heterosilik, atom karbon pada cincin benzena digantikan oleh
elemen lainnya.Salah satu senyawa turunan yang paling penting adalah cincin
yang mengandung nitrogen. Penggantian satu CH dengan N akan membentuk
senyawa piridinapyridine, C5H5N. Meskipun benzena dan
piridina secara struktur berhubungan, tapi benzena tidak dapat diubah menjadi
piridina. Penggantian ikatan CH kedua dengan N akan membentuk senyawa piridazin, pirimidin atau pirazin tergantung dari posisi atom N yang menggantikan
CH.
Reaksi-reaksi yang umum terjadi pada benzena dan
turunannya adalah reaksi substitusi elektrofilik. Terdapat 4 macam reaksi
substitusi elektrofilik terhadap senyawa benzena, yaitu:
1.
Reaksi halogenasi

Sebagai elektrofil adalah X+, dihasilkan
dari reaksi antara X2 + FeX3.
FeX3 (misalnya FeCl3)
adalah suatu asam Lewis yang berfungsi sebagai katalis.
Katalis asam Lewis lain yang dapat digunakan adalah AlCl3, AlBr3.
Contoh:

2.
Reaksi nitras

Sebagai
elektrofil adalah NO2+ (ion nitronium), dihasilkan dari reaksi
antara HNO3 danH2SO4.
3.
Reaksi sulfonasi
Benzena bereaksi lambat dengan H2SO4
pada suhu tinggi menghasilkan asam benzene sulfonat.

Sebagai
elektrofil adalah
SO3 yang merupakan elektrofil
relatif kuat karena atom S yang kekurangan elektron, atau + SO3H
yang dihasilkan dari reaksi:

3.
Reaksi Friedel-Crafts
Reaksi
Friedel-Crafts meliputi reaksi alkilasi dan reaksi asilasi.
Reaksi
alkilasi

Sebagai
elektrofil dalam reaksi alkilasi Friedel-Crafts adalah ion karbonium
(R+).Karenamelibatkan ion karbonium, maka seringkali terjadi reaksi penyusunan
ulang(rearrangement) membentuk karbonium yang lebih stabil.Contoh reaksi
alkilasi:
Reaksi
asilasi:

Reaksi
asilasi:

Sebagai elektrofil dalam reaksi
asilasi Friedel-Crafts adalah ion asilium, terbentuk
dari hasil reaksi:

Ion asilium
Pada reaksi asilasi Friedel-Crafts
tidak terjadi reaksi penataan ulang.
Dalam reaksi alkilasi dan asilasi
Friedel-Crafts juga digunakan katalis asam
Lewis, misalnya FeCl3, FeBr3, AlCl3, AlBr3.
Contoh reaksi asilasi:

4.TATA NAMA SENYAWA BENZENA
Semua senyawa yang mengandung
cincin benzena digolongkan sebagai senyawa turunan benzena. Penataan nama
senyawa turunan benzena sama seperti pada senyawa alifatik, ada tata nama umum
(trivial) dan tata nama menurut IUPAC yang didasarkan pada sistem penomoran.
Dengan tata nama IUPAC, atom karbon dalam cincin yang mengikat substituen
diberi nomor terkecil. Menurut IUPAC, benzena dengan satu substituen diberi
nama seperti pada senyawa alifatik, sebagai gugus induknya adalah benzena.
Contoh:Hidroksibenzena Aminobenzena Nitrobenzena
Benzena dengan gugus alkil
sebagai substituen, diklasifikasikan sebagai golongan arena. Penataan
nama arena dibagi ke dalam dua golongan berdasarkan panjang rantai alkil. Jika
gugus alkil berukuran kecil (atom C 6) maka gugus alkil diambil sebagai
substituen dan benzena sebagai induknya.Contohnya :Butilbenzen Isopropilbenzena
Jika gugus alkil berukuran besar (atom C 6) maka benzena dinyatakan sebagai
substituen dan alkil sebagai rantai induknya. Benzena sebagai substituen diberi
namafenil– (C6H5–, disingkat –ph). Contohnya : Gugus
benzil Gugus fenil 3-feniloktana
Benzena
dengan dua gugus substituen diberi nama dengan awalan:orto– (o–), meta–
(m–), dan para– (p–). rto– diterapkan terhadap substituen
berdampingan (posisi 1 dan 2), meta– untuk posisi 1 dan 3, dan para–
untuk substituen dengan posisi 1 dan 4. Contohnya:
o-hidroksimetilbenzena, m-hidroksimetilbenzena,
p-hidroksimetilbenzena
Jika gugus substituen sebanyak
tiga atau lebih, penataan nama menggunakan penomoran dan ditulis secara
alfabet. Nomor terkecil diberikan kepada gugus fungsional (alkohol, aldehida,
atau karboksilat) atau gugus dengan nomor paling kecil.
Disamping
tata nama menurut IUPAC, juga terdapat beberapa nama yang sudah umum (trivial),
misalnya:
IUPAC :MetilbenzenaFenilamina/amino benzeneFeniletena/vinilbenzena
Trivial : Toluena Anilin Stirena
IUPAC : Metoksibenzena/fenil metil
eter Hidroksibenzena/fenilalkohol
Trivial : Anisol FenolBenzaldehidaAsam
benzoat
Tata nama trivial sering kali
dipakai sebagai nama induk dari benzena.Penomoran untuk senyawa seperti ini
dimulai dari gugus fungsional.
Contoh: 3,4-diklorotoluena
, Asam 3,4-dibromobenzoa, Asetofenon.
1.Tatanama
Benzena Monosubstitusi
Benzena dengan satu substituen alkil diberi nama
sebagai turunan benzena, misalnya etilbenzena. Sistem IUPAC tetap memakai nama
umum untuk beberapa benzene monosubstitusi,
misalnya toluena, kumena, stirena.

Nama-nama
umum seperti fenol, anilina, benzaldehida, asam benzoat, anisol juga tetap
digunakan dalam sistem IUPAC.
Dalam molekul yang lebih kompleks, cincin benzena sering diberi nama
sebagai substituent yang terikat pada rantai utama. Dalam hal ini gugus C6H5 diberi nama gugusfenil (bukan
benzil). Nama benzil digunakan untuk gugus C6H5CH2.

Dalam molekul yang lebih kompleks, cincin benzena
sering diberi nama sebagai substituen
yang terikat
pada rantai utama. Dalam hal ini gugus C6H5 diberi nama gugus fenil (bukan
benzil). Nama benzil digunakan untuk gugus C6H5CH2.

2. Benzena Disubstitusi
Bila benzena
mengikat dua substituen maka terdapat kemungkinan memiliki tiga
isomer
struktur. Apabila kedua substituen diikat oleh atom-atom karbon 1,2- disebut
kedudukannya orto (o) satu sama lain, dan apabila diikat
oleh atom-atom karbon 1,3- disebut meta (m), dan 1,4-
disebut para (p).
Jika salah
satu di antara dua substituen yang terikat pada cincin brnzena memberikan nama
khusus, seperti misalnya toluena , anilina, maka senyawanya diberi nama sebagai
turunan dari nama khusus tersebut. Perlu diingat bahwa substituen yang
memberikan nama khusus tersebut dianggap menempati posisi nomor 1. Sistem IUPAC
menggunakan nama
umum xilena
untuk ketiga isomer dimetilbenzena, yaitu o-xilena, m-xilena, dan p-xilena.
Apabila kedua substituen tidak memberikan nama khusus, maka masing-masing
substituent diberi nomor, dan namanya diurutkan berdasarkan urutan abjad, dan
diakhiri dengan kata benzena. Atom karbon yang mengikat substituent yang urutan
abjadnya lebih dahulu diberi nomor 1.
Contoh-contoh
senyawa benzena disubstitusi:

3.
Benzena Polisubstitusi
Apabila terdapat tiga atau lebih substituen terikat
pada cincin benzena, maka posisi masing-masing substituen ditunjukkan dengan
nomor. Jika salah satu substituen memberikan nama khusus, maka diberi nama
sebagai turunan dari nama khusus tersebut. Jika semua substituen tidak
memberikan nama khusus, posisisnya dinyatakan dengan nomor dan diurutkan sesuai
urutan abjad, dan diakhiri dengan kata benzena.
Contoh:

Hidrokarbon
aromatik poliinti adalah hidrokarbon aromatik yang memiliki dua atau lebih
cincin aromatik. Setiap pasang cincin aromatik mengguanakan bersama dua atom
karbon. Contoh: naftalena, antrasena, dan fenantrena.

5. REAKSI SUBSTITUSI BENZENA
Reaksi benzena umumnya melalui
reaksi substitusi, walaupun ada sebagian reaksi yang melalui reaksi
adisi.Macam-macam substitusi benzena di antaranya halogenasi benzena, nitrasi
benzena, dan reaksi
riedel-crafts.
a.
Halogenasi Benzena
Dengan adanya katalis
besi(III) klorida atau aluminium klorida, benzena dapat bereaksi dengan klorin
ataupun bromin membentuk senyawa halobenzena pada suhu kamar.Benzena dapat juga
bereaksi dengan klorin atau bromin tanpa bantuan katalis jika ada cahaya ultraviolet
(cahaya matahari dapat juga diterapkan).Reaksi yang terjadi adalah pembentukan
radikal bebas dari halogen.Reaksi ini melibatkan reaksi adisi dan substitusi
atom klorin pada cincin benzena membentuk beberapa senyawa klorobenzena.
b.
Nitrasi Benzena
Campuran asam nitrat pekat dan
asam sulfat pekat dengan volume sama dikenal sebagai campuran nitrasi. Jika
campuran ini ditambahkan ke dalam benzena, akan terjadi reaksi eksotermal. Jika
suhu dikendalikan pada 55°C maka hasil reaksi utama adalah nitrobenzena, suatu
cairan berwarna kuning pucat .Reaksinya secara umum: Fungsi asam sulfat dalam
reaksi di atas adalah untuk menghasilkan kation nitril, NO2+ dari
asam nitrat. Persamaan reaksinya:
2H2SO4
+ HNO3 ↔ 2HSO4- + H3O+
+ NO2+
Kation nitril
selanjutnya bereaksi dengan benzena membentuk nitrobenzena:
Jika campuran nitrasi dan
benzena dipanaskan pada suhu di atas 60°C selama lebih kurang satu jam maka
gugus nitro yang kedua akan menukargantikan atom H pada cincin benzena. Setelah
campuran reaksi dituangkan ke dalam air akan terbentuk kristal kuning pucat
dari di–atau tri–nitrobenzena
c.
Benzena
Monosubstitusi
Benzena
dengan satu substituen alkil diberi nama sebagai turunan benzena, misalnya
etilbenzena. Sistem IUPAC tetap memakai nama umum untuk beberapa benzena
monosubstitusi, misalnya toluena, kumena, stirena.Nama-nama umum seperti fenol,
anilina, benzaldehida, asam benzoat, anisol juga tetap
digunakan dalam
sistem IUPAC.
Dalam
molekul yang lebih kompleks, cincin benzena sering diberi nama sebagai
substituen yang terikat pada rantai utama. Dalam hal ini gugus C6H5-
diberi nama gugus fenil (bukan benzil). Nama benzil digunakan untuk gugus
C6H5CH2-.Dalam molekul yang mengandung gugus fungsi lain, gugus
fenil dan gugus benzil sering diberi nama sebagai substituent.
d. Benzena Disubstitusi
Bila benzena mengikat dua
substituen maka terdapat kemungkinan memiliki tiga isomer struktur. Apabila
kedua substituen diikat oleh atom-atom karbon 1,2- disebut kedudukannya orto (o) satu
sama lain, dan apabila diikat oleh atom-atom karbon 1,3- disebut meta (m),
dan 1,4- disebut para (p). Jika salah satu di antara dua substituen yang
terikat pada cincin brnzena memberikan nama khusus, seperti misalnya toluena ,
anilina, maka senyawanya diberi nama sebagai turunan dari nama khusus tersebut.
Perlu diingat bahwa substituen yang memberikan nama khusus tersebut dianggap
menempati posisi nomor 1. Sistem IUPAC menggunakan nama umum xilena untuk
ketiga isomer dimetilbenzena, yaitu o-xilena, m-xilena, dan p-xilena. Apabila
kedua substituen tidak memberikan nama khusus, maka masing-masing substituen
diberi nomor, dan namanya diurutkan berdasarkan urutan abjad, dan diakhiri
dengan kata benzena. Atom karbon yang mengikat substituen yang urutan abjadnya
lebih dahulu diberi nomor.
e. Benzena Polisubstitusi
Apabila terdapat tiga atau
lebih substituen terikat pada cincin benzena, maka posisimasing-masing substituen
ditunjukkan dengan nomor. Jika salah satu substituen memberikannama khusus,
maka diberi nama sebagai turunan dari nama khusus tersebut. Jika semua
substituen tidak memberikan nama khusus, posisisnya dinyatakan dengan nomor dan
diurutkan sesuai urutan abjad, dan diakhiri dengan kata benzena.Hidrokarbon
aromatik poliinti adalah hidrokarbon aromatik yang memiliki dua ataulebih
cincin aromatik.Setiap pasang cincin aromatik mengguanakan bersama dua
atomkarbon. Contoh: naftalena, antrasena, dan fenantrena.
6. SIFAT,
KEGUNAAN, SERTA DAMPAK SENYAWA BENZENA DAN TURUNANNYA
Sifat yang dimiliki senyawa turunan
benzena sangat beragam bergantung pada jenis substituennya.Sifat-sifat khas ini
dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal.Senyawa benzena dan turunannya banyak
digunakan di bidang kesehatan, industri, pertanian, dan sebagai bahan peledak.
Beberapa pabrik di Indonesia, yaitu Bekasi dan Surabaya telah memproduksi bahan
kimia turunan benzena seperti alkil benzena sulfonat yang digunakan sebagai
bahan baku pembuatan detergen.
Sifat
Fisik:
·
Zat cair tidak
berwarna
·
Memiliki bau yang
khas
·
Mudah menguap
·
Tidak larut dalam
pelarut polar seperti air air,tetapi larut dalam pelarut yang kurang polar atau
nonpolar, seperti eter dan tetraklorometana
·
Titik Leleh : 5,5 derajat
Celsius
·
Titik didih :
80,1derajat Celsius
·
Densitas : 0,88
Sifat
Kimia:
·
Bersifat
kasinogenik (racun)
·
Merupakan senyawa
nonpolar
·
Tidak begitu
reaktif, tapi mudah terbakar dengan menghasilkan banyak jelaga
·
Lebih mudah
mengalami reaksi substitusi dari pada adisi.
(untuk mengetahui beberapa reaksi subtitusi pada benzena
(untuk mengetahui beberapa reaksi subtitusi pada benzena
Berikut ini beberapa senyawa
benzena danturunannya.
1. Benzena
Benzena merupakan zat kimia
yang tidak berwarna, mudah terbakar, dan berwujud cair. Benzena digunakan
sebagai bahan baku untuk pembuatan plastik dan bahan kimia lainnya, seperti
detergen dan bahan bakar kendaraan. Namun, benzena juga diketahui dapat
menyebabkan kanker sel darah putih (leukimia) bagi manusia. Jika mengisap
benzena dengan kadar yang cukup tinggi, dapat menyebabkan kematian.
Meminum atau memakan makanan
yang mengandung benzena dalam jumlah cukup tinggi dapat menyebabkan berbagai
masalah, mulai dari muntah-muntah, iritasi lambung, kepala pusing, hingga
kematian.
2. Aspirin
Aspirin atau asam
asetilsalisilat memiliki sifat analgesik, antipiretik,antiradang, dan
antikoagulan.Karena sifat-sifat itulah aspirin biasanyadigunakan sebagai obat
sakit gigi dan obat pusing.Senyawa ini memilikititik didih 140 °C dan titik
leleh 136 °C.Mengonsumsi aspirin secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan
pada kesehatan.Di antaranya gangguan pencernaan pada lambung, seperti sakit
maag dan pendarahan lambung.
3. Anilina
Anilina memiliki rumus kimia
C6H5NH2 dan biasa dikenal dengan namafenilamina atau aminobenzena. Senyawa
turunan benzena ini mengandunggugus amina.Anilina memiliki wujud cair pada suhu
kamar dan tidak berwarna (colorless).Titik didihnya 184 °C, sedangkan
titik lelehnya –6 °C.Senyawa anilina mudahmenguap dan menimbulkan bau tak
sedap, seperti ikan yang membusuk.Dilihat dari sifat kimianya, anilina
tergolong basa lemah. Anilina dapatbereaksi dengan asam kuat menghasilkan garam
yang mengandung ion anilinium (C6H5–NH3+).
Selain itu, anilin juga mudah bereaksi dengan asil halida (misalnya asetil
klorida, CH3COCl) membentuk suatu amida.Amidayang terbentuk dari
anilin disebut anilida. Misalnya, senyawa dengan rumuskimia CH3–CO–NH–C6H5
diberi nama asetanilida.Anilina banyak digunakan sebagai zat warna. Bukan hanya
itu, anilinajuga digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai obat,
sepertiantipirina dan antifebrin. Di balik kegunaannya, penggunaan anilina
secaraberlebihan dapat mengakibatkan mual, muntah-muntah, pusing, dan
sakitkepala.Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan anilina
dapatmenyebabkan insomnia.
4. Klorobenzena
Klorobenzena adalah senyawa
turunan benzena dengan rumus kimiaC6H5Cl. Senyawa ini
memiliki warna bening (colorless) dan mudah terbakar.Klorobenzena dapat
diperoleh dengan cara mereaksikan fenol dan fosforpentaklorida. Klorobenzena
tidak larut di dalam air serta memiliki titik leleh–45 °C dan titik didih 131
°C.
5. Asam Benzoat
Asam
benzoat adalah senyawa turunan benzena dengan rumus kimia C6H6CO2.
Asam benzoat memiliki sifat fisis di antaranya titik leleh 122 °C (252 °F) dan
titik didih 249 °C (480 °F). Penggunaan utama dari asam benzoat adalah sebagai
pengawet makanan.
6. Nitrobenzena
Nitrobenzena
memiliki rumus kimia C6H5NO2. Turunan benzena ini dikenal juga dengan namanitrobenzol
atau minyak mirbane. Nitrobenzena memiliki aroma almond, namun bersifat
racun. Kelarutan nitrobenzena dalam air sekitar 0,19 g/100 mL pada 20 °C, titik
lelehnya 5,85 °C, sedangkan titik didihnya 210,9 °C. Nitrobenzena dapat
digunakan sebagai pelarut dan bahan baku pembuatan anilina serta digunakan juga
dalam produk semir dan senyawa insulator.
7. Parasetamol
Parasetamol
atau asetaminofen merupakan zat analgesik dan antipiretik yang paling
populer.Parasetamol sering digunakan untuk mengobati pusing dan sakit
kepala.Berikut ini struktur molekul parasetamol. Sifat dari parasetamol antara
lain titik leleh 169 °C, kelarutan dalam air 1,4 g/100 mL (20 °C), serta larut
di dalam etanol. Tahukah Anda, dari manakah asal kata asetaminofen dan
parasetamol? Kedua nama tersebut berasal dari nama kimia kedua senyawa, yaitu N-acetyl-para-aminophenol
dan para-acetyl-amino-phenol.
Terlalu banyak mengonsumsi parasetamol dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
8. Fenol
Fenol
dikenal juga dengan nama asam karbolat. Turunan benzena ini merupakan padatan
kristalin yang tidak berwarna.Rumus kimianya adalah C6H5OH. Dari nama dan rumus
kimianya, dapat diduga bahwa senyawa fenol mengandung gugus hidroksil (–OH)
yang terikat pada cincin benzena. Sifat-sifat fenol di antaranya, kelarutannya
di dalam air 9,8 g/100 mL, titik leleh 40,5 °C, dan titik didih 181,7 °C Fenol
memiliki sifat antiseptik sehingga digunakan di dalam bidang pembedahan untuk
mensterilkan alat-alat. Fenol juga banyak digunakan dalam pembuatan obat, resin
sintetik, dan polimer.Fenol dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
9. Asam Salisilat
Asam
salisilat merupakan turunan benzena yang tergolong asam karboksilat sehingga
asam salisilat memiliki gugus karboksil (–COOH).Adanya gugus ini menyebabkan
asam salisilat dapat bereaksi dengan alkohol membentuk ester. Misalnya, reaksi
asam salisilat dengan metanol akan menghasilkan metil salisilat. Asam salisilat
bersifat racun jika digunakan dalam jumlah besar, tetapi dalam jumlah sedikit
asam salisilat digunakan sebagai pengawet makanan dan antiseptik pada pasta
gigi.Perhatikan struktur molekul asam salisilat berikut.
10.
TNT (Trinitrotoluene)
TNT
(Trinitrotoluene) merupakan senyawa turunan benzena yang bersifat mudah
meledak.Senyawa TNT diperoleh melalui reaksi nitrasi toluena.TNT digunakan
sebagai bahan peledak untuk kepentingan militer dan pertambangan. Senyawa TNT (Trinitrotoluene)
dibuat dengan cara mereaksikan toluena dan asam nitrat pekat, serta dibantu
katalis asam sulfat pekat.TNT sering disalahgunakan sebagai bahan peledak
sehingga merugikan umat manusia dan lingkungan.
DAFTAR
PUSTAKA
Dina,Atik.2011. Diktat Kimia Organik.Malang: SMK Putra
Indonesia
Harnanto dan
Ruminten. 2009. Kimia 3 Untuk Sma/Ma
Kelas Xii. Jakarta. Setia Aji
Budi Utami, dkk.
2009. Kimia Untuk Sma/Ma Kelas Xii.
Jakarta. CV.Haka Mj
Riswiyanto.2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Publishers
Inc.
Fessenden,
Fessenden. 1992. Kimia Organik.
(Terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka).
Edisi
ketiga. Jakarta:Penerbit Erlangga
Pine,
Stanley H. et. Al. 1980.Organic Chemistry.Fourth
edition. McGraw-Hill
Tidak ada komentar:
Posting Komentar